Tentang Menuntut Ilmu
Menuntut Ilmu Agama
Menuntut ilmu agama Islam (thalabul ilm) adalah salah satu ibadah yang paling mulia dalam Islam. Ini adalah kewajiban pribadi — setiap Muslim harus mengetahui cukup untuk beribadah kepada Allah dengan benar — dan juga kewajiban kolektif untuk melahirkan ulama yang meneruskan agama ini.
Para ulama disebut sebagai "pewaris para nabi," dan mereka yang menempuh jalan ilmu dijanjikan kemudahan menuju surga. Tidak seperti kebanyakan amalan sunah, amalan menuntut ilmu agama memberi manfaat kepada pelajar di setiap saat — baik saat membaca, menghadiri kelas, atau sekadar berniat untuk belajar.
Irama belajar
Signifikansi & manfaat
Jalan Menuju Surga
Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat merendahkan sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu, dan orang-orang yang di langit dan di bumi memintakan ampunan untuk orang berilmu — bahkan ikan-ikan di dalam air. Keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham — mereka mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang penuh" (Tirmidzi 2606, dinyatakan sahih oleh Al-Albani; IslamQA 20191).
Kewajiban bagi Setiap Muslim
Nabi ﷺ bersabda: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim" (Ibnu Majah 224, dinyatakan sahih oleh Al-Albani). Minimal, setiap Muslim harus mengetahui cukup tentang akidah, ibadah, dan muamalah sehari-hari untuk mengamalkan Islam dengan benar. Di luar itu, ilmu agama adalah fardhu kifayah — cukup orang harus belajar secara mendalam untuk memikul agama ini bagi seluruh komunitas (IslamQA 20092).
Ulama di atas Ahli Ibadah
Nabi ﷺ bersabda: "Keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian" (Tirmidzi 2685). Imam Ahmad berkata: "Menuntut ilmu adalah amalan terbaik bagi orang yang niatnya benar" dan "Kebutuhan manusia terhadap ilmu lebih besar daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman" (IslamQA 47273).
Pahala Membaca Hadits dan Buku-Buku Islam
IslamQA mengonfirmasi: "Ya, ada pahala membaca buku-buku dari semua jenis ilmu Islam, dan mengkaji ilmu. Menuntut ilmu melalui Al-Quran dan Sunnah membawa pahala yang besar… Hal yang sama berlaku untuk Sunnah: membaca dan mengkaji hadits-hadits membawa pahala yang besar, karena ini termasuk menuntut ilmu" (IslamQA 99515).
Pelajar Setara Ulama dalam Pahala
Abu Darda رضي الله عنه berkata: "Orang alim dan pelajarnya setara dalam pahala, dan seluruh manusia lainnya tidak ada kebaikannya" (IslamQA 47273). Bahkan pelajar yang tulus mendapat pahala seperti ulama.
Peringatan: Ilmu Tanpa Amal
Nabi ﷺ memperingatkan: "Barang siapa yang mencari ilmu yang seharusnya dicari karena Allah, namun ia mencarinya hanya untuk kepentingan dunia, ia tidak akan mencium wangi surga pada Hari Kiamat" (Abu Dawud 3664). Ilmu harus membawa pada amal dan keikhlasan — bukan kesombongan, status, atau perdebatan (IslamQA 315635).
Cara melakukan / mempraktikkan
Apa yang Harus Dipelajari Pertama
Ilmu memiliki urutan yang benar. Mulailah dengan yang paling penting:
- Akidah (kepercayaan Islam): Keyakinan yang benar tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, rukun iman — ini adalah fondasi segalanya.
- Fikih Ibadah: Cara berwudhu, shalat, puasa, zakat, dan haji dengan benar. Ini fardhu ain — wajib bagi setiap individu.
- Pembersihan Hati (tazkiyah): Ilmu tentang penyakit-penyakit hati (sombong, iri, riya) dan cara menyembuhkannya.
- Sirah (Biografi Nabi ﷺ): Memahami kehidupan Nabi ﷺ membangun rasa cinta, konteks, dan hikmah yang praktis.
- Hadits: Mengkaji sabda-sabda Nabi ﷺ secara langsung, mulai dari koleksi yang mudah diakses seperti Riyadhus Shalihin.
- Tafsir: Memahami makna-makna Al-Quran — bahkan tafsir singkat surah-surah harian adalah permulaan yang kuat.
Cara Menuntut Ilmu
- Belajar dari ulama yang berkualifikasi yang ilmu dan komitmen agamanya dapat dipercaya — ini adalah metode utama yang dianjurkan para ulama (IslamQA 20191).
- Jika tidak ada ulama lokal: Cari penuntut ilmu yang terpercaya; jika tidak ada, gunakan buku-buku yang sahih, kajian audio, dan sumber online yang terpercaya.
- Konsisten: Bahkan 15-30 menit kajian Islam harian yang konsisten lebih berharga daripada sesi intensif yang jarang.
- Catat dan ulang: Ilmu dijaga dengan menulis dan mengulang.
- Amalkan segera apa yang dipelajari: Ibnu Masud berkata para sahabat tidak melewati sepuluh ayat sampai memahami dan mengamalkannya (IslamQA 152602). Ilmu yang tidak diamalkan adalah argumen yang melawan pemiliknya.
Titik Awal yang Dianjurkan
- Riyadhus Shalihin (Imam An-Nawawi) — hadits-hadits sahih tentang ibadah, akhlak, dan kehidupan sehari-hari
- Tsalatsatul Ushul (Ibnu Abdul Wahhab) — primer singkat tentang akidah
- Hisnul Muslim (Kumpulan Doa dan Dzikir) — dzikir harian, dengan rujukan
- Tafsir Ibnu Katsir (ringkasan) — untuk memahami makna-makna Al-Quran
- IslamQA.info — untuk fatwa yang terpercaya dan panduan Islam tentang pertanyaan sehari-hari
Niat
Niatkan menuntut ilmu karena Allah — untuk menghilangkan kebodohan diri sendiri, untuk beribadah kepada-Nya dengan benar, dan untuk memberi manfaat kepada orang lain. Imam Ahmad berkata: "Hendaklah ia berniat untuk menjadi rendah hati setelah memperoleh ilmu dan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain" (IslamQA 315635).
Referensi
- Ibnu Majah 224
- Tirmidzi 2606
- Tirmidzi 2685
- Abu Dawud 3664
- https://islamqa.info/en/answers/10471
- https://islamqa.info/en/answers/20092
- https://islamqa.info/en/answers/20191
- https://islamqa.info/en/answers/47273
- https://islamqa.info/en/answers/99515
- https://islamqa.info/en/answers/152602
- https://islamqa.info/en/answers/262984
- https://islamqa.info/en/answers/315635